DETIK TERAKHIR BERSAMAMU
“Assalamualaikum?” suara salam terdengar dari balik pintu. Aku segera berlari membukakan pintu. “Walaikumsalam.” Jawabku perlahan menarik gagang pintu itu. Ku lihat sosok laki-laki yg mungkin usianya hampir sepadan denganku, memakai kemeja putih yg ehmm bagiku it’s so perfect! Mulutku membentuk huruf o bulat. “maaf, apa bapak Sholehnya ada?” dia bertanya mencari bapakku. “eh, ehm ada ada, silahkan masuk. Tunggu sebentar.” Jawabku setelah acara ngelamunnya. Aku menyilahkannya duduk di sofa empuk rumahku sedangkan aku berjalan mencari bapak. Kakiku tak bisa berkompromi, berjalan dengan terburu-buru mungkin efek habis liat orang cakep. Hihi.”bapak, ada tamu yg nyariin tuh.” Tuturku pada bapak yg kini di hadapanku. “oh iya.” Jawabnya singkat. Aku segera menuju ke dapur membuat dua cangkir teh untuk si cakep dan bapak! Haha. Gak lama aku udah di ruang tamu nganterin teh itu. Sambil ku taruh sambil ku lirik dia, hahai! Uups! Sepertinya dia juga melirikku tadi. Mata tajamnya melirikku dengan seulas senyum! Masya Allah. “aduh! Zaskia! Ada apa sm km? Payah!” rutukku kesal dalam hati. Ku rapikan lengan bajuku yg terlipat setelah wudhu tadi. Di atas sajadah aku bersujud melaksanakan ibadah sholat dhuhur. Lewat bibir ini ku ucap sepenggal demi sepenggal do’a utk mereka, orang yg aku sayangi.
“Zas? Sini km?” panggil ka Zidan. Dia kakakku yg dekat denganku. Aku menghampirinya “ya? Ada apa ka?” jawabku. “tolongin kakak de, beliin sabun colek di warung seberang jalan komplek.” Pesannya padaku. “oh, boleh, tapi aku di bayarin beli es ya?” kataku mengiyakan dengan satu syarat. Ka Zidan hanya mengangguk mengeluarkan sepuluh ribuan dari dompetnya. Aku segera mengambil sepeda mungilku karena letaknya cukup jauh dengan rumahku.
“fiuuhh!! Akhirnya nyampe juga.” Ku elap jidatku yg berkeringat. “Bu, beli gorengannya 5000, campur ya, Bu.” Kataku sambil mendekat ke kursi tunggu. Nafasku kembang-kempis karna saking semangatnya ngayuh sepeda tadi. Ku lirik jam tanganku uhm, jam 3. “neng, ini pesanannya.” Kata bibi penjual gorengan. “oh iya bi, makasih ya.” Jawabku tersenyum. Bibi membalasnya dengan senyum manis. “Bismillahirrahmanirahim.” Ku ucap basmalah untuk mulai mengayuh sepeda kembali pulang. Di perjalanan pulang badanku terasa berat, keringat dingin bercucuran, kepalaku terasa berputar-putar. Astagfirullahal’azim ada apa dengan aku? Aku berusaha mengayuhnya lebih cepat, tapi apadayaku energi ku terkuras hebat, aku terhenti di pinggir jalan komplek. Keringat dingin yg masih bercucuran perlahan mulai ku usap. Ku usap semua bagian wajahku. Hingga aku melihat darah di saputanganku. “Masya allah.” Aku tersentak kaget melihat darah itu. Aku berusaha melanjutkan perjalanan untuk pulang, tapi naas aku tergeletak jatuh pingsan disitu.
“Zaskia? Bangun nak? Kamu kenapa?” bisik suara parau disebelahku. Mama . Yah, dia yg menemaniku seharian di ruangan ini, tapi tunggu ada seseorang disana yg sebelumnya aku pernah bertemu. Tapi Siapa dia? Perlahan aku mulai membuka mata. Ku lihat seisi ruangan hanya ada kursi tamu, dan dinding-dinding putih. “Ma, aku dimana?” tanyaku mencoba untuk duduk. Wajah murungnya kini terhapus oleh seulas senyum yg menghiasi bibirnya. “nak? Kamu udah sadar. Alhamdulillah. Kamu di Rumah sakit.” Jawabnya senang. Aku menatap tajam orang itu, yg sedang duduk di kursi tamu. “oh iya sayang, itu nak Aldi yg bawa kamu ke rumah sakit, waktu kamu pingsan di jalan.” Mendengar kata-kata mama tadi aku jadi ingat siapa dia. Dia yg bertamu pada bapak tadi pagi. Si perfect! “aku pingsan?” batinku berbicara. Aku masih terpaku menunduk lemas. “hey? Bagaimana, udah mendingan?” sapa suara yg begitu lembut. Aku tersentak bukan main, dia! Aku menatapnya dalam, jauh ke dalam bola matanya. “ehm, alhamdulillah baik. Oya, makasih udah mengantarkan aku ke Rumah sakit.” Entah mengapa mata ini tak bisa ku alihkan dari pandangan menatap bola matanya yg membuatku tertarik .“iya sama-sama. Kenalin aku Aldi, Aldi bagus. Kamu?” katanya memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya. “Zaskia.” Jawabku membalas jabat tangannya. “its beautiful name.” Gumamnya sambil tersenyum menatapku. Masya Allah, manisnya. “sekolah dimana?” kali ini giliranku yg bertanya. “SMA IDOLA, kamu?” dia balik bertanya. “ha? Sama dong, ko aku ga pernah liat kamu, Al?” aku jawab dengan panggilan ‘Al’ entah kenapa jantungku terasa bergetar lebih cepat dari biasanya. Deg! Nafasnya agak sesak dg apa yg dia dengar tadi. “oya? Mungkin karena aku sering menghabisakan banyak waktuku di perpus dan lab. Jadi agak jarang buat ngeliat siswa di situ juga.” Ujarnya grogi.
Setelah perbincangan kami tadi, aku mulai akrab dengan dia. Hampir tiap hari dia selalu datang menjengukku di Rumah sakit. Dan tak lupa dia membawakanku setangkai bunga warna merah tiap harinya. Sore itu di teras depan kamar inapku, aku duduk memandangi taman yg ada di hadapanku. “Zas? Sore?” tiba-tiba suara lembut itu menyapaku. Aku tersenyum mendengarnya. “sore juga, Al.” Aku membalas sapaannya. Dia duduk berlutut di depanku sambil memberikan setangkai mawar merah. Entah mengapa saat-saat seperti ini justru membuatku pesimis. Penyakit yg menggerogoti tubuhku tak kunjung sembuh, kemarin tak sengaja aku mendengar percakapan kedua orang tuaku bersama dokter. Dokter bilang. Penyakitku semakin parah, tak ada jalan keluaar selain menunggu yg Maha Kuasa menjemputku. Tidaaak! Tangisku meledak, tak bisa ku bendung. Air mata menetes butir demi butir. Ka Zidan mengusap lembut kepalaku, mencoba membuatku agar terlelap. Tapi aku takut, jika nanti aku terlelap aku tak bisa membuka mata ini. “Zas? Kamu lagi mikirin apa? Ko mukamu sedih?” tanyanya yg seakan tau apa yg aku pikirkan. Aku tersenyum padanya meyakinkan tidak ada sesuatu yg aku ganjal. “ehm, ga ko, Al. Aku Cuma takut ga bisa ketemu kamu lagi.” Singkatku. Dia tersentak kaget mendengar perkataanku barusan. “ko gitu? Zaskia, tiap hari kamu akan ketemu aku terus. Jangan ngomong gitu ah.’ Jawabnya meyakinkan aku. “tapi, Al. Hidupku ga lama lagi, aku hanya bisa menunggu Israil mencabut nyawaku. Dan, setelah itu kita ga bisa bertemu kembali untuk selamanya.” Butiran air mata seakan membanjiri pipiku, tangisku meledak tak bisa ku bendung. Seakan tak mau kehilangan aku, tiba-tiba saja, Aldi memelukku erat. Pelukkan hangat yg belum pernah aku rasakan seblumnya. Ya Allah, seandainya waktu ini bisa ku hentikan, aku ingin berhenti saat ini juga, saat ia bersamaku. “Zas, percaya sama aku, kamu pasti sembuh.” Katanya menatapku penuh kasih sayang. Ia memelukku lebih erat lagi seakan tak mau melepasku.
Tiga minggu aku di sini, tak ada perkembangan apapun, yg ada hanya derita sakitku. Pagi itu, aku duduk di kursi roda memandang taman depan kamar. Pukul 9 pagi, aku duduk hanya di temani rerumputan hijau, tanpa Aldi disini, dia sedang melakukan rutinitas sebagai pelajar. “nyanyikan lagu indah~ sebelum ku pergi dan mungkin tak kembali.” Isakku melantunkan satu bait syair lagu. Keringat dingin itu bercucuran lagi, kepalaku juga mulai pusing, entah apa yg telah terjadi, mungkinkah? Israil telah datang menjemputku? Darah itu mengalir lewat lubang hidungku. Terasa hangat saat aku mengusapnya. Aku tak bisa apa-apa. Beruntung ada suster yg lewat depan kamarku, ia langsung membawaku ke ruang ICU.
Sekitar satu jam aku di ruangan ICU .Tubuhku terbaring lemas kaku. Semua usaha telah dokter lakukan untukku. Aku melihat mama, bapak, dan ka Zidan menangis mengerubuti tubuhku yg terbaring. Kalau dia aku, lalu aku siapa? Nggak! Ini nggak mungkin! Aku mencoba mendekati mereka aku sapa mereka. “mama? Bapak? Ka Zidan? Ini aku.” Tapi tak ada satupun yg memperhatikan aku, mereka hanya menangis memandangi tubuhku yg kaku itu. “Innalillahiwainnailaihiraji’un, maaf pak, bu, kami tidak bisa menyelamatkan nyawa anak anda. Ananda kini telah tenang di alam sana, pak, bu. Sekali lagi saya minta maaf. Mungkin ini saatnya dia pulang ke rahmatullah.” Kata dokter pada kedua orang tuaku. Apa! Astaughfirullahal’azim. Aku sudah tiada. Tangis mamaku semakin menjadi-jadi. Bapak mencoba untuk menenangkannya. Begitu juga dengan ka Zidan, dia menangis di samping kasur aku berbaring. Secepat inikah aku harus pergi meninggalkan mereka yg ku sayangi? Ya Allah izinkan aku bertemu dengannya tuk yg terakhir kali. Amin Ya Rob.
Sore itu jenazahku akan di makamkan. Tapi, bapakku menunggu seseorang untuk melihat jenazahku yg terakhir kalinya. Aldi, langkahnya tergesa-gesa sambil membawa setangkai bunga mawar merah. Dia mendekat ke arahku, emm maksudku ke arah bayanganku. Aku coba tersenyum tapi dia tak bisa melihatku. Ia duduk di samping jenazahku yg putih pucat. “zaskia? Ko kamu pergi ga bilang-bilang aku? Zas, jangan tinggalin aku sendiri, nanti siapa yg akan ku ajak untuk bernyanyi bersama?” tanyanya padaku, yg jelas-jelas aku sudah tak bernyawa. aku mendengarmu, Al. Aku sayang kamu sayangnya kita ga bisa bertemu lagi. Jaga selalu hatimu, aku akan selalu hidup di hatimu.
Kini aku telah tertidur tenang di nisan ini. Mama, bapak, ka Zidan dan yg lain mengantarku ke tempat peristirahatan terakhir. Masih dengan isakkan air mata aldi duduk di samping makamku. Ka Zidan mendekatinya, memberi sebuah surat dariku untuknya. “sebelum zaskia pergi, dia sempet nitip ini buat kamu.” Bisiknya menepuk pundak Aldi lalu pergi pulang bersama mama dan bapak.
Untuk yg aku sayang
Aldi Bagus
Assalamu’alaikum, Al. Maaf aku tak bisa menemanimu sampai kamu tua nanti, haha. Karena keterbatasan hidupku di dunia ini. Kamu tau ga, Al. Awal aku liat kamu, aku udah naksir kamu, lho! Tapi pertemuan pertama kita relatif singkat. Agak kecewa sih, tapi semua itu terbayar sudah dengan kehadiranmu tiap hari di rumah sakit. Tiap sore kamu datang membawa setangkai mawar untukku, saat-saat kita bernyanyi bersama, tertawa, sendau gurau, sedih, senang kita lalui bersama. Dan bila esok aku tak ada dan kamu belum liat aku yg terakhir kali, bawakan aku bunga mawar letakkan itu di makamku ya, Al. Hehe. Al, kamu tau, semenjak kita akrab, aku merasakan sesuatu dalam hatiku, ada getar rindu disini. Entah kamu percaya atau tidak, aku menyayangimu lebih dari yg kamu tau, lebih dari seorang sahabat, melainkan satu insan pada lawan jenisnya. Saat-saat terakhirku telah ku lewati bersama kamu, Al. Aku bahagia di dekatmu. Apakah kamu juga? Ku harap iya.
“usap air matamu, dekap erat tubuhku. Tatap aku sepuas hatimu~ nikmati detik demi detik yg mungkin kita tak bisa rasakan lagi~ hirup aroma tubuhku yg mungkin tak bisa lagi tenangkan gundahmu~ nyanyikan lagu indah sebelum ku pergi dan mungkin tak kembali~ nyanyikan lagu indah~ tuk melepasku pergi dan tak kembali~
Jangan lupakan aku yah, Al. Aku harap kamu akan bahagia dengan orang lain yg pasti bukan aku orangnya.
Wassalamu’alaikum.
Salam
Zaskia aprilia
Dia telah membaca surat yg ku titipkan pada ka Zidan. “zas, aku juga sayang kamu, bahkan aku mencintaimu, kamu adalah perempuan yg indah di mataku. Andai waktu dapat ku putar, aku akan menikahimu sekarang, jadi kamu ga akan pernah hilang di hidup dan hatikku. Karena kamu telah menjadi milikku. Aku akan selalu mengunjungimu, Zas. Jadikan aku orang yg slalu kamu simpan di hatimu. Nyanyikan lagu indah~ sebelum ku pergi dan mungkin tak kembali~ nyanyikan lagu indah~ tuk melepasku pergi dan tak kembali~. AKU SAYANG KAMU ZASKIAAAAA!!!!” Itulah dia, Aldi seorang yg aku cinta, tapi naas waktu memisahkan segalanya, dia yg begitu tampan, baik akhlaknya mau menyayangiku, mencintaiku walau aku tak ada di sampingnya. Dia bagai malaikat yg menyinariku. Ya Allah, berilah dia kebahagiaan yg berlimpah, jangan engkau beri dia beban batin atas kepergianku. Amin Ya Robbal’allamin.